Hayoo, siapa yang sering galau dan mengeluh tentang BB anaknya yang tak kunjung naik? Atau anak batuk pilek yang tak kunjung sembuh, padahal sudah lebih 10 hari?? Acung tangan…hap…hap… Nah pasti ada tuh yang tunjuk tangan dipojokan dapur, hihihi. Setidaknya dibenak bunda pasti pernah terbersit… jangan2.. BB anakku nggak naik-naik atau batuk pilek nggak sembuh-sembuh karena flek paru… habis kemaren si ibu tetangga manas-manasin…”coba minta di rontgent aja mbak, mana tau kena flek paru, itu loh anak si ibu anu..… positif TBC, makanya anaknya kurus, batuk pilek nggak sembuh2….a..i..u..e..o”. Dan Siiiip, galaupun semakin melanda menambah gundah gulana (lebay dikit).
Penyebaran Tuberkulosis pada anak merata hampir di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Hasil Survey WHO tahun 2012 menyatakan bahwa lebih dari 75.000 anak meninggal karena TB Paru setiap tahunnya dan kasus anak menderita TB paru di seluruh dunia mencapai sekurang-kurang
nya 500.000 kasus setiap tahunnya. Artinya, TB paru pada anak bukan suatu penyakit yang ringan dan sepele. Tapi, penyakit ini bisa di sembuhkan dengan komitmen, pengobatan rutin dan perlu ketelatenan dan juga kesabaran.
Apa sih sebenarnya Tuberkulosis itu??
Tuberculosis atau TB Paru atau Koch Pulmonal (KP) adalah penyakit infeksi yang disebabkan kuman TB yaitu Mycobacterium Tuberculosis atau disingkat M. Tuberculosis. Kuman TB ini disebut juga Basil Tahan Asam (BTA), karena sifat kumannya yang tahan hidup pada suasana asam. Kuman ini bisa menyerang hampir semua organ tubuh, itulah kenapa kita tentu pernah mendengar ada TB tulang, TB kelenjar atau TB otak. Nah, TB anak adalah penyakit TB yang terjadi pada anak usia 0-14 tahun.
Bagaimana sih cara penularan TB paru pada anak?
Cara penularannya adalah masuknya si kuman Basil melalui saluran pernafasan lewat Droplet Nuclei atau PERCIKAN DAHAK, dan sumber penular UTAMAnya adalah Penderita TB Paru dengan BTA positif (positif terdapat partikel kuman M. tuberculosis pada dahaknya) baik orang dewasa maupun anak. Orang dewasa yang terdiagnosa TB Paru Aktif dengan BTA Positif lebih infeksius atau mudah & cepat menularkan ke orang lain dan ke anak-anak yang ada riwayat kontak langsung dengannya. Faktor Risiko penularan TB paru anak ini tergantung dari tingkat penularan, lama pajanan (terpapar oleh penderita TB aktif), dan daya tahan tubuh anak.
Bagaimana gejala umum/sistemis dari TB paru pada anak ?
1. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas atau berat badan anak tidak naik dalam 3 bulan setelah diberikan upaya gizi yang baik.
2. Demam lama lebih dari 2 minggu dan atau berulang tanpa sebab yang jelas (bukan demam thypoid, infeksi saluran kemih, malaria, dan lain-lain, jadi perlu pemeriksaan yang teliti dan detail dalam menegakkan diagnosa TB anak ini). Demam TB Paru biasanya tidak terlalu tinggi atau hanya demam hangat. Keringat malam saja bukan gejala spesifik TB pada anak apabila tidak disertai dengan gejala-gejala penyerta lainnya.
3. Batuk lama lebih dari 3 minggu, batuk bersifat non-remitting (batuk tidak pernah reda, terus menerus atau semakin lama semakin parah), dan penyebab lain dari si batuk telah disingkirkan. Jadi kalau batuk hanya sesekali, sewaktu-waktu muncul kemudian reda dan tidak terus menerus, berarti bukan TB paru ya, hanya batuk pilek biasa.
4. Nafsu makan tidak ada (anoreksia) atau berkurang, disertai gagal tumbuh (failure to thrive).
5. Malaise, anak cenderung lesu, malas, anak kurang aktif bermain.
6. Diare persisten/menetap lebih dari 2 minggu yang tidak sembuh dengan pengobatan atau penanganan baku diare.
7. Pada TB paru anak tampak pucat karena anemia.
Jadi buat bunda yang masih galau dengan BB anak yang tak kunjung naik, maka bisa di coba dengan perbaikan menu makanan pendamping ASI menjadi lebih berisi dan bernutrisi, usahakan beri menu seimbang dimana karbohidrat, protein, lemak dan serat tercukupi, boleh coba menu double protein dan double karbohidrat, misalnya beras putih dan berah merah (di mix), atau beras putih dan kentang, beras merah dan jagung, dan lainnya. Double protein bisa dari telur dan tempe, temped an tahu, ikan dan telur, dan lainnya. Kemudian sisipkan sumber lemak tambahan (ini PENTING), sumber lemak tambahan bisa didapat dari minyak zaitun murni, unsalted butter, margarine, minyak kelapa murni,minyak jagung, minyak canola, dsb.
Mengapa saya bilang PENTING, karena selain sumber kalori pada makanan pendamping ASI juga perlu penambahan sumber lemak. Walau hanya 1 sendok teh atau kurang bisa membantu melancarkan pencernaan bayi bunda, jadi risiko sembelit pada bayipun berkurang. Serat pada bayi bisa dengan memberi 3 macam sayur (kalau saya jujur lebih suka memberi 3 macam sayur ke Asyam), contoh nih wortel, labu siam, dan brokoli. Besoknya buncis, wortel, sawi hijau, dsb. Komposisi ini mampu menjadi booster BB bagi yang bermasalah dengan BB bayinya. Coba Booster BB ini dengan rutin selama 1-3 bulan dan evaluasi akhir bulan atau bulan berikutnya dengan ke posyandu, atau puskesmas untuk sekedar timbang BB, syukur-syukur kalau punya timbangan sendiri di rumah. Jika tidak ada perbaikan dan BB masih tetap selama 1-3 bulan dengan perbaikan menu gizi seimbang ini, bunda harus curiga mengarah ke TB paru anak.
Untuk Bunda yang bayinya batuk pilek sudah seminggu, jangan langsung jadi paranoid ya. Batuk pilek adalah gejala penyakit yang sangat amat sering dialami oleh Bayi atau balita karena mereka memiliki daya tahan tubuh yang masih terus menerus berkembang, sementara virus penyebab batuk pilek (atau disebut common cold) ini ada ratusan juta jumlahnya. Jadi kemungkinan terkena common cold ini pasti akan dialami oleh setiap orang. Nama virusnya adalah Rhinovirus, hobinya menginfeksi area pernafasan terutama hidung dan saluran nafas. Nah cara badan kita mengeluarkan si virus ini dengan reflex BATUK dan PILEK. Jadi, jangan musuhan sama batuk dan pilek ya bun, ini adalah cara tubuh anak mempertahankan dirinya dari infeksi lebih lanjut oleh si bibit penyakit. Jika batuk pilek anak bertahan lebih dari 3 minggu tanpa ada perbaikan, dan telah menjalani pengobatan ke dokter juga pemberian antibiotik, kemudian disertai 1 atau lebih gejala umum TB lainnya. Maka bunda barulah waspada mengarah ke TB paru anak.
Bagaimana Perjalanan penyakit TB paru ?
Perjalanan dari TB paru anak sendiri panjang dan lama, biasanya masa inkubasi kuman M. Tuberculosis adalah 3-8 minggu dari terinfeksi sampai bergejala. Yang perlu menjadi catatan adalah, TB paru pada anak ini kadang TIDAK bergejala loh bun. Itu mengapa kita patut tau dan senantiasa waspada ya.
Penularan TB paru anak ini terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei (percikan ludah yang sudah positif terdapat si kuman M. tuberculosis) di udara sekitar kita. Partikel infeksi ini bisa menetap di udara selama 1-2 jam, tergantung ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi udara yang buruk, dan kelembaban ruangan. Dalam suasana lembab dan gelap, maka kuman dapat bertahan hidup berhari-hari bahkan sampai berbulan-bulan. Jika partikel ini terhisap oleh orang sehat, ia akan menempel pada saluran nafas atau jaringan paru, ketika kuman ini berhasil masuk maka akan ditumpas oleh neutrofil sebagai tentara pertama tubuh. Kemudian akan dibantu oleh si makrofag sebagai bala tentara bantuan jika sudah kewalahan. Kebanyakan si partikel infeksi ini akan mati dan dibersihkan oleh si makrofag keluar dari percabangan trakeobronkial bersama dengan gerakan silia (bulu-bulu halus di pernafasan) dan sekretnya (lendir hasil produksi silia, yang berisi kuman mati).
Nah, tapi bagaimana jadinya jika daya tahun tubuh kita menurun sehingga si makrofag pun KO? Jika demikian, maka si partikel kuman tadi akan hidup di dalam sitoplasma magrofag yang berisi lemak. Kuman TB ini sangat suka dengan lemak ya bun, jadi itu mengapa BB anak bisa menetap atau bahkan turun, karena lemak ditubuh anak digerogoti oleh si kuman ini tadi. (Tega deh ya kumannya... # boxing ). Kemudian si kuman akan mudah sekali menginfeksi organ lain tubuh (mata,jantung, paru-paru, kelenjar getah bening, ginjal, tulang) . Dan paling sering adalah paru-paru.
Trus gimana cara mendiagnosa TB paru anak?
Pada anak akan dilakukan system scoring, dimana scoring ini sudah ada acuan bakunya yang diisi oleh petugas di fasilitas kesehatan, dan bila hasil scoring mengarah posiif ke TB paru anak, maka pada anak dilakukan TES TUBERKULIN atau tes MANTOUX, dengan menyuntikkan PPD (Purified Protein Derivativ) intrakutan (dibawah lapisan kulit). Tes tuberculin ini hanya menyatakan apakah anak sedang atau pernah mengalami infeksi M. Tuberculosis. Tes tuberculin ini menggunakan reaksi alergi fase lambat, dimana hasil reaksinya adalah indurasi kemerahan atau bentol besar kemerahan pada lokasi yang di suntikkan PPD tadi. Jika hasilnya adalah bentol besar diatas 15mm (atau 1,5cm), maka hasilnya adalah positif kuat. Selain tes Mantoux ini, juga bisa dibantu oleh pemeriksaan radiolois yaitu berupa foto thorak, dan didapat gambaran kearah TB paru anak (tentu yang bisa baca adalah dokter spesialis radiologi atau dokter anak dan dokter umum). Jika sudah tegak diagnose TB paru anak, maka barulah dimulai pengobatannya. Saat ini pengobatan TB paru gratis dari pemerintah dan ada di puskesmas terdekat kita.
Cara mencegah supaya tidak terkena TB paru gimana dong?
1. Vakninasi BCG pada bayi kurang dari 2 bulan. Bayi lebih dari 2 bulan maka di vaksin dengan dilakukan tes Tubeculin atau mantoux dulu. Pedoman pemberian vaksinasi BCG ini mengacu pada Pedoman Program Pemberian Imunisasi Kemenkes. Secara umum pemberian vaksinasi BCG ini efektif untuk mencegah terjadinya TB berat seperti TB milier, dan TB meningitis yang sering didapatkan pada usia muda. Saat ini vaksinasi BCG ulang tidak direkomendasikan karena tidak terbukti memberi perlindungan tambahan.
2. Di lingkungan tempat tinggal kita jika terdapat orang yang positif TB paru dan aktif maka yang perlu dilakukan adalah minimalkan kontak secara langsung dengan orang tersebut. Beri edukasi pada sanak keluarga yang positif TB paru, dengan menggalakkan etika batuk dan hygiene batuk yaitu, setiap kali batuk atau bersin, menutup mulut dan berada di tempat yang terbuka.
3. Jagalah kebersihan rumah dan tempat tinggal kita selalu, terapkan PHBS keluarga. Hindarkan lingkungan yang lembab dan gelap karena kuman M. Tuberculosis senang tinggal di tempat yang lembab (tidak berventilasi udara) dan gelap (tidak ada jendela dimana sinar matahari langsung dapat masuk). Buat ventilasi udara sebaik mungkin di rumah kita, agar pertukaran udara lancar dan baik. Usahakan sinar matahari dapat masuk ke dalam rumah kita di pagi dan siang hari, agar sinar ultraviolet yang ampuh membunuh virus dan bakteri dapat menerobos masuk.
4. Bisa juga dengan memakai pelindung masker sebagai alat perlindungan diri paling minimal.
5. Jika kita serumah dengan orang yang terdeteksi TB paru, bisa juga dilakukan terapi pencegahan dengan pengobatan selama 3 bulan, tetapi ini adalah dengan pertimbangan dari medis dan atas anjuran Dokter spesialis anak atau Dokter spesialis paru dengan mempertimbangkan jika si bayi atau anak berisiko tinggi dilingkungan tempat tinggal tertular.
Regimen Pengobatan TB paru sudah di canangkan oleh WHO dan sama di belahan dunia manapun, jadi berobat TB paru di Indonesia ya sama dengan berobat TB paru di Belanda atau Korea,hehehe… Hanya, dosis pengobatan pada anak akan menyesuaikan kilogram Berat badan (KgBB) anak kita. Jadi tidak perlu khawatir overdosis ya bun. Regimennya adalah meliputi obat-obatan, Rifampisin, Isoniazid dan Pirazinamid pada 2 bulan pertama, dilanjutkan 4 bulan berikutnya dengan terapi lanjutan regimen Rifampisin dan Isoniaid. Sekarang dengan program menuntaskan TB di masyarakat, obat untuk anakpun dibuat dalam bentuk yang disukai anak kita, sudah ada loh yang berupa sirup, jadi manis dan mudah dikonsumsi. Tentu obat TB ini harus diresepkan dokter ahli ya bun, karena dokter akan menghitung dosis obat sesuai BB anak.
Nah, semoga informasi ini menambah ilmu para bunda yhaaa… untuk yang kemarin posting dan sudah inbox (ada lebih 5 orang yang bertanya) seputar TB paru anak semoga sudah terjawab pertanyaannya. Merdeka!!! (EAPL) Dedicated to papa.

Sunber grup fb Sharing Asi-Mpasi